Oleh: Dr. Benny Nurdin Yusuf, MH
_Dengan memperkuat koperasi, memberdayakan UMKM, menjamin gizi anak bangsa, memperkuat human capital dan menyapu bersih para mafia ekonomi, Indonesia sedang membangun imunitas ekonominya sendiri. Guncangan ekonomi dunia hari ini tidak perlu dihadapi dengan kepanikan, melainkan dengan keyakinan bahwa di balik setiap ancaman global, selalu ada peluang bagi bangsa yang berani berdaulat di atas kaki sendiri. Saatnya kita buktikan bahwa lumbung pangan dan SDA ini adalah milik dan pelindung bagi rakyatnya sendiri._
JAKARTA, 17 Mei 2026: _ Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Gejolak geopolitik, ancaman inflasi global, hingga spekulasi liar di media sosial mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang dikhawatirkan mampu menembus angka psikologis baru, memicu kembali trauma kolektif bangsa ini: *Krisis Moneter 1998**. Saat itu, ketergantungan yang akut pada kapital asing dan utang valuta asing (valas) merobohkan sendi-sendi ekonomi nasional dalam sekejap. (Ingat bagaimana startegi Josh soros)
Namun, di tengah awan mendung ekonomi global tersebut, kita mendengarpidato Bapak Presiden Republik Indonesia saat meresmikan 1.061 koperasi di Surabaya baru-baru ini membawa angin segar. ( Optimisme). Sebuah pesan tersirat yang kuat dikirimkan ke ranah publik dan internasional: Indonesia tidak akan lagi mendiktekan nasibnya pada skenario global, melainkan pada kekuatan domestiknya sendiri. Dari pesan pidato Bapak Presiden muncul sebuah prtanyaan krusialnya: **Mampukah Presiden membawa Indonesia keluar dari “Jebakan Asing” dan lingkaran setan ketergantungan global?** mari kita coba bedah sambil menyeruput secangkir kopi pahit, mari coba kita bedah:
1. Paradoks “Tikus Mati di Lumbung Padi” dan Visi Ekonomi Kerakyatan:
penulis melihat bahwa Bapak Presiden menangkap dengan sangat kuat kegelisahan mendasar bangsa ini. Indonesia adalah negara yang diberkahi kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa (bahkan bisa jadi indonesia adalah Atlantik yang hilang kini hadir kembali). Indonesia sebuah lumbung pangan da SDA yang megah, namun ironisnya masih banyak rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Paradoks *”tikus mati di lumbung padi”* inilah yang menurut penulis menjadi motor penggerak lahirnya kebijakan ekonomi kerakyatan berbasis asas kekeluargaan, seperti yang diucapakan bapak prabowo pada pidato peresmian koperaai merah putih di Surabaya 16 Mei 2026, bahwa kita akan membangun ekonomi kekeluargaan (yang kuat menarik yang lemah, yang kaya menarik yang miskin) .
Langkah ini bukan sekadar romantisasi sejarah atas pemikiran Bung Karno tentang **Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri)** atau asas kekeluargaan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Di era ini, visi tersebut dimanifestasikan secara struktural melalui pembentukan Kementerian UMKM. Ini adalah pengakuan yuridis bahwa pelaku usaha cilik bukan lagi sekadar “jaring pengaman” saat krisis, melainkan pilar utama penopang produk domestik bruto (PDB) nasional. (belajar dari krisis ekonomi 98).
Peresmian 1.062 koperasi di Surabaya menjadi simbol de-stigmatisasi koperasi. Koperasi kini didorong menjadi entitas korporasi rakyat yang modern, transparan, dan mampu mengonsolidasikan kekuatan ekonomi masyarakat bawah agar memiliki daya tawar (_bargaining power)_ di hadapan raksasa kapitalisme global.
2. Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Modal Manusia (SDM) Human Capital
Keluar dari jebakan asing memerlukan fondasi internal yang sehat. Strategi taktis Presiden melalui program **Makan Bergizi Gratis (MBG)** dan pembangunan **Sekolah Kerakyatan** adalah langkah hulu yang sangat jitu.
* **Program MBG** bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan intervensi gizi untuk memotong mata rantai *stunting* yang berada di bawah anvka 20 % (data thn 2025). Dari 284 juta jiwa penduduk kita. Secara ekonomi, program ini mampu menggerakkan ekosistem lokal karena pasokan pangan wajib diserap dari petani, peternak, dan nelayan setempat melalui koperasi. (Walaupun saat ini masih menimbulkan polemik, tapi menurut penulis Bapak Presiden harus terus mengevaluasi agar sistem MBG menjadi lebih baik dan memgawal agar program ini tidak jatuh di tangan oknum yang bermental opurtunitis)
*Sekolah Kerakyatan* hadir untuk memastikan anak-anak putus sekolah kembali ke bangku pendidikan. Tanpa kualitas manusia yang mumpuni, bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi produk asing, bukan produsen di negeri sendiri. bonus demografi harus menjadi peluang menjadi negara kuat dengan ditopang SDM yang unggul dan handal.
3. Penegakan Hukum: Merebut Kembali Kedaulatan Fiskal
Satu hal yang membedakan situasi pemerintahan merah putih dengan masa lalu adalah penulis melihat ada keberanian kuat pemerintah dalam melakukan pembersihan masalah iklim usaha domestik. Reformasi peradilan melalui aksi agresif Kejaksaan Agung yang berhasil mengembalikan ratusan triliun rupiah uang negara dari tangan para mafia ekonomi dan pengusaha korup adalah langkah penyelamatan fiskal yang luar biasa. Uang negara yang dirampok oleh para oportunis ini kini dialihkan untuk memperkuat keuangan negara. Menurut penulia langkah tegas ini memberikan dua pesan sekaligus:
1. Indonesia memiliki modal domestik yang kuat jika kebocoran anggaran ditutup.
2. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim usaha yang adil (*_level playing field_*), sehingga pengusaha lokal dan UMKM tidak tergilas oleh praktik monopoli mafia. (Restrukturisasi kebijakan perbangkan dalam mendorong pengusa lokal dan menengah ke bawah, jangan KUR hanya wacana tapi implemntatif. Kemudahan modal bagi masyarakat bawah)
4. Belajar dari Krisis ’98: Desa dan Sektor Riil Adalah Benteng Kita
Banyak pihak di media sosial menebar ketakutan bahwa jika Dolar Amerika menyerang, ekonomi kita akan kolaps. (tatanan ekonomi kita tidak terlepas dari tatanan ekonomi global). Kalau mendengar pidato Bapak Presiden 16/5/2026 di Surabaya, dalam pidatonya, bwliau mengatakan bahwa di maayarakat bawah di desa-desa, masyarakat tidak menggunakan dolar untuk tranksaksi sehari- hari, yang pusing yang “suka keluar negeri”
Apa yang dikatakan Bapak Presiden ada benarnya. Namun tentu kita juga tetap waspada dan menyiapkan pondasi kuat dan strategi yg jitu untuk ekonomi kerakyatan kita.
Mari kita menengok kembali lembaran sejarah **Krisis Moneter 1998**. Ketika konglomerasi besar di Jakarta yang berbasis utang asing bertumbangan, wilayah perdesaan dan kabupaten di berbagai provinsi justru menjadi pahlawan yang menyelamatkan Indonesia. Sektor pertanian, perikanan, pertambangan serta perkebunan rakyat (seperti udang, kepiting, kopi, kakao, nikel , batu bara dan sebaginya) justru meraup keuntungan besar (*_windfall profit*_ ) akibat lonjakan nilai ekspor. (Beberapa wilayah provinsi di Indonesia tak terimbas) . Sektor riil inilah benteng pertahanan kita. Ketika ekonomi global mengalami de-globalisasi dan fragmentasi, penguatan pasar domestik dan hilirisasi komoditas lokal harus menjadi kunci agar kita tidak terombang-ambing oleh dinamika moneter global.
5. Catatan Korektif: Waspada Penumpang Gelap (*Opportunis*):
Optimisme ini tentu wajib dibarengi dengan kewaspadaan yang tinggi. Tantangan terbesar Bapak Presiden hari ini bukan hanya tekanan dari lembaga keuangan internasional atau fluktuasi mata uang asing, melainkan **rayuan dan infiltrasi dari mental oportunis di dalam negeri**. Program-program kerakyatan yang luar biasa seperti MBG, revitalisasi koperasi, Human capital (sekolah rakyat) dan bantuan sektor riil rawan mengalami distorsi dan kegagalan jika jatuh ke tangan para pemburu rente (*_rent-seekers_*).
Pengelolaan yang buruk, korupsi di tingkat pelaksana lapangan, dan birokrasi yang korup bisa menjatuhkan cita-cita luhur ekonomi kekeluargaan ini.
Oleh karena itu, Presiden harus terus melakukan **evaluasi ketat dan pengawalan melekat**. Penggunaan teknologi digital, integrasi data (Big Data), serta pelibatan pengawasan langsung oleh masyarakat (*_bottom-up oversight_*) harus diperkuat demi memastikan setiap rupiah anggaran kerakyatan benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
Kesimpulan
Mampukah Presiden keluar dari jebakan asing dan lingkaran mental opurtunitis? **Jawabannya adalah mampu, asalkan kita konsisten pada jalan “Berdikari” yang sedang dirintis. Dan memberi ruang kepada pengusaha lokal (bukan asing) dan putra putri bangsa yang hebat dan mampu diberdayakan di bumi pertiwi** Dengan memperkuat koperasi, memberdayakan UMKM, menjamin gizi anak bangsa, membangun human capital dan menyapu bersih para mafia ekonomi, Indonesia sedang membangun imunitas ekonominya sendiri. Guncangan ekonomi dunia hari ini tidak perlu dihadapi dengan kepanikan, melainkan dengan keyakinan bahwa di balik setiap ancaman global, selalu ada peluang bagi bangsa yang berani berdaulat di atas kaki sendiri. Saatnya kita buktikan bahwa lumbung pangan dan SDA ini adalah milik dan pelindung bagi rakyatnya sendiri.
Ditulis : Dr.Benny Nurdin Yusuf,MH. (Menjawab kegelishan berita medsos dan Optimisme Bapak Presiden RI).


























Discussion about this post