CERDASI. ID, JAMBI – Nama H. Ade Erlanda dan Hj. Yanti, atau yang akrab disapa Ade dan Yanti, mungkin sudah tidak asing lagi di linimasa warganet Jambi. Pasangan ini kerap viral di media sosial, tak jarang diwarnai dengan mention bersentimen negatif setiap kali isu bisnis dan niaga tambang batu bara Jambi mencuat.
Namun, benarkah realita di lapangan seburuk stigma yang tergambar di dunia maya? Di balik sorotan tajam dan hujatan tersebut, ternyata ada kisah perjuangan berdarah-darah yang luput dari pandangan publik.
H. Karyadi, salah seorang pengusaha senior Jambi yang mengenal dekat rekam jejak keduanya, akhirnya buka suara. Ia menilai banyak orang hanya melihat hasil akhir, tanpa tahu bagaimana pasangan ini merangkak dari bawah.
”Saya kenal baik sosok pasangan ini. Di mata saya, mereka adalah ‘adek-adekan’ saya. Mereka adalah pengusaha sukses yang benar-benar berangkat dari nol besar. Perlu dicatat, mereka bukan anak siapa-siapa, bukan anak pejabat, dan bukan pula keturunan konglomerat Jambi,” ungkap H. Karyadi.
Menurut Karyadi, kesuksesan finansial dan aset ratusan miliar yang berhasil mereka raih dalam waktu relatif singkat bukanlah sebuah kebetulan atau hasil instan. Kuncinya ada pada kekompakan paripurna. Ade dan Yanti ibarat “dwi tunggal” yang saling melengkapi dan menjadi sistem kontrol satu sama lain di dunia bisnis yang keras.
”H. Ade Erlanda itu operator lapangan yang sangat handal, pekerja keras, dan humble (rendah hati). Sementara Hj. Yanti adalah juru lobi yang luar biasa tangguh sekaligus ahli di bidang akuntansi. Sangat wajar mereka sukses, karena mereka selalu turun tangan bekerja bareng dan saling mengontrol,” bebernya.
Lebih lanjut, Karyadi menyayangkan stigma negatif yang terus digoreng publik. Padahal, jika dilihat dari kacamata ekonomi makro, kontribusi pasangan pengusaha muda asli Jambi ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
”Kita seharusnya bangga ada pengusaha muda local pride yang mampu bersaing di kerasnya dunia tambang. Kalau mau dihitung, sumbangan pajak mereka untuk negara mencapai ratusan miliar per tahun. Belum lagi efek dominonya terhadap ekonomi masyarakat; ada ribuan orang yang menggantungkan periuk nasi dengan bekerja di sektor tambang ini,” tegas Karyadi.
Satu hal yang paling jarang diekspos ke publik adalah kedermawanan (filantropi) pasangan dwi tunggal ini. Di balik cibiran sebagai “bos tambang”, Ade dan Yanti dikenal sangat ringan tangan.
”Sisi lain yang tidak banyak orang tahu, mereka berdua ini sangat rajin bersedekah. Mereka sudah membangun beberapa masjid dan secara rutin menjadi donatur tetap di sejumlah pondok pesantren. Pengusaha seperti ini langka. Sungguh tidak adil jika kita hanya men-judge (menghakimi) mereka dari opini negatif di luar sana,” tambahnya.

Sebagai sosok yang dituakan, H. Karyadi menitipkan pesan mendalam bagi Ade dan Yanti agar tidak patah arang menghadapi ujian di puncak kesuksesan.
”Saya berdoa semoga mereka berdua tetap istiqomah dalam kebaikan, dan tidak goyah hanya karena hujatan dan makian. Orientasi kita gampang saja. Nabi Muhammad SAW yang merupakan Habibullah (kekasih Allah) saja tidak luput dari caci maki dan hujatan, apalagi kita manusia biasa. Teruslah berkarya untuk Jambi,” pungkasnya. (*/za)
























Discussion about this post