CERDASI. ID, JAMBI- Komunitas film Sinema Kajang Lako menghadirkan ruang apresiasi dan literasi film melalui Program Pemutaran dan Diskusi Film bertajuk “Merekam Tradisi, Merawat Budaya”.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari sabtu, 14 Februari 2026, pukul 19.00 WIB hingga selesai,bertempat di Lapangan Kopi Broyat, Tehok, Kota Jambi.
Ketua Sinema Kajang Lako, Rachmat Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah sekaligus memperluas ruang dialog kebudayaan di tengah masyarakat. Menurutnya, film tidak hanya menjadi medium hiburan, tetapi juga alat refleksi sosial dan pendidikan budaya.
Dalam kegiatan tersebut akan diputar dua film, yakni Saudara Kembar Buaya dan Bunga Tanpa Lebah, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama narasumber dan undangan.
Selain itu, terdapat pula materi khusus tentang pengarsipan film sebagai bagian penting dalam menjaga jejak karya dan memori kolektif daerah.
Kegiatan ini turut mengundang berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintah, akademisi, lembaga adat, komunitas film, sekolah, hingga media massa. Kehadiran lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi dalam pengembangan perfilman dan pelestarian kebudayaan di Jambi.
Tema “Merekam Tradisi, Merawat Budaya” dilandasi oleh kesadaran akan krisis regenerasi dan terputusnya rantai pengetahuan, terutama pada tradisi yang hidup dalam sistem tutur. Ketika generasi tua wafat dan generasi muda tidak lagi memiliki ketertarikan, bahasa lokal, ritual, serta kearifan ekologis berisiko hilang tanpa jejak.
Menurut Anton Oktavianto, yang juga sebagai pengawas di Sinema Kajang lako, mengatakan bahwa film juga memiliki dimensi politik kebudayaan. Bangsa yang tidak merekam kebudayaannya sendiri berisiko diinterpretasikan oleh pihak luar atau kehilangan kedaulatan narasinya. Produksi film di daerah bukan hanya soal karya, tetapi produksi kesadaran. Film menjadi ruang pendidikan, refleksi, sekaligus upaya menjaga martabat kebudayaan di tengaht antangan zaman.
Melalui kegiatan ini, Sinema Kajang Lako berharap film dapat menjadi jembatan antara generasi, mempertemukan gagasan, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya merawat identitas budaya di tengah arus modernisasi. (cer)

























Discussion about this post