CERDASI. ID, JAMBI – Bayang-bayang musim kemarau dan ancaman fenomena El Nino yang berkepanjangan membuat Pemerintah Provinsi Jambi bergerak cepat. Terhitung mulai Senin (27/4/2026), Provinsi Jambi resmi menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Langkah taktis ini diambil setelah dua wilayah, yakni Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Muaro Jambi, lebih dulu membunyikan alarm tanda bahaya dengan menetapkan status siaga darurat di tingkat kabupaten. Keputusan ini dimatangkan melalui Rapat Koordinasi Forkopimda bersama pemangku kepentingan terkait pada Jumat pekan lalu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengungkapkan bahwa penetapan status dari dua kabupaten tersebut menjadi landasan kuat bagi Pemprov Jambi untuk segera mengambil langkah intervensi.
”Hal ini juga didasarkan pada prediksi BMKG yang menyebutkan bahwa pada awal Mei, curah hujan di Jambi akan mulai menurun secara drastis,” jelas Bachyuni (24/4/2026).
Mantan Penjabat (Pj) Bupati Muaro Jambi ini membeberkan, penurunan curah hujan tersebut akan memicu kondisi panas dan kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah. Periode rawan ini diperkirakan akan berlangsung cukup panjang, membentang dari bulan Mei hingga Oktober mendatang.
Secara geografis, sebagian besar wilayah di Provinsi Jambi masuk dalam radar kategori rawan karhutla dengan tingkat kerentanan sedang hingga tinggi. Kendati demikian, beberapa daerah seperti Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, dan Kota Jambi dipetakan relatif lebih aman dari titik api.
Tindak Tegas Pembakar Lahan
Menghadapi potensi bencana tahunan ini, pemerintah tidak bekerja sendiri. Sinergi lintas sektor secara masif akan diterjunkan, melibatkan kekuatan penuh dari TNI, Polri, BPBD, masyarakat, hingga pihak perusahaan swasta.
Peringatan keras juga datang dari aparat penegak hukum. Kapolda Jambi menegaskan larangan mutlak membuka lahan dengan metode pembakaran ( slash and burn ). Sanksi pidana tegas telah menanti siapa saja yang nekat melanggar aturan ini.
Sebagai solusi konkret, pemerintah mendorong alternatif pembukaan lahan yang lebih ramah lingkungan, salah satunya dengan memfasilitasi penggunaan alat berat.
”Masyarakat diimbau agar tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar, termasuk kebiasaan membakar sampah sembarangan di area terbuka yang bisa memicu kebakaran lebih luas,” tegas Bachyuni.
Sebagai garis pertahanan terdepan, upaya pencegahan dan edukasi akan diperluas hingga ke akar rumput. Personel Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama akan dilibatkan penuh secara door-to-door.
”Pendekatan humanis dan sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mengoptimalkan langkah pencegahan dan meminimalisir angka karhutla di lapangan,” pungkasnya. (cer)

























Discussion about this post