CERDASI. ID, JAMBI – Pengamat perbankan Laila Farhat, S.E., M.M., melontarkan keyakinannya terhadap kapasitas infrastruktur dan manajemen Bank Jambi. Bank kebanggaan masyarakat Jambi ini dinilai tidak hanya mumpuni, tetapi juga merupakan aktor paling strategis untuk mengelola payroll (penggajian) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Jambi.
Berbicara di Jambi, Senin (14/9), Laila menegaskan bahwa payroll tidak boleh dipandang sebelah mata hanya sebagai fasilitas ‘numpang lewat’ gaji. Lebih dari itu, payroll adalah urat nadi pendanaan yang strategis.
“Bank Jambi secara kapasitas sangat memiliki kemampuan untuk mengelola payroll ASN. Dari kacamata perbankan, payroll ini adalah bagian dari transaction banking yang menyumbang Dana Pihak Ketiga (DPK), menghidupkan aktivitas rekening, dan membangun ekosistem nasabah yang solid,” ungkap Laila.
Nilai strategis dari sebuah rekening gaji, lanjut Laila, ada pada transaksi yang berulang (recurring transaction). Dana yang masuk secara periodik ini akan terus berputar—mulai dari pembayaran tagihan rumah tangga, transfer, transaksi digital, hingga cicilan pembiayaan.
“Satu rekening payroll bisa melahirkan banyak produk dan layanan baru. Ini yang kita sebut meningkatkan customer lifetime value. Jadi, bank tidak hanya menjadi tempat masuknya gaji, tetapi menjelma menjadi main banking relationship bagi nasabah,” jelasnya.
Keunggulan Bank Jambi dan Efek Dominonya
Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Jambi memiliki satu senjata rahasia yang tidak dimiliki bank lain: kedekatan emosional dan pemahaman mendalam terhadap karakteristik ekonomi daerah.
Menurut Laila, dana yang mengendap dari ekosistem payroll ini akan memperkuat struktur DPK Bank Jambi, terutama jika sukses dikonversi menjadi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Semakin kuat dana murah yang dimiliki, beban biaya dana (cost of fund) bank akan semakin efisien.
“BPD itu punya mandat strategis sebagai perantara keuangan daerah (regional financial intermediary). Artinya, dana murah dari payroll ini nantinya bisa dikembalikan ke masyarakat dalam wujud pembiayaan sektor produktif dan UMKM. Ini bukan cuma soal menumbuhkan neraca bank, tapi menggerakkan ekonomi Jambi,” tutur Laila.
Ekosistem payroll yang terpusat di Bank Jambi juga membuka peluang emas untuk cross selling. Mulai dari penawaran kartu debit, kemudahan layanan digital, hingga kredit multiguna bisa dimaksimalkan untuk mendongkrak fee based income perusahaan.
Meski begitu, Laila mengingatkan agar Bank Jambi tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian (prudential banking). Dana payroll harus dikelola dengan manajemen risiko yang matang, menjaga bantalan likuiditas (liquidity buffer), dan mematuhi ketentuan regulator.
“Selama Bank Jambi terus melakukan continuous improvement terhadap sistem pembayaran, keamanan siber, infrastruktur digital, dan tata kelolanya, maka secara kapasitas mereka sangat layak dipercaya mengelola payroll ASN. Ini adalah strategic funding anchor bagi Bank Jambi untuk merajai penetrasi pasar di daerahnya sendiri,” pungkasnya. (*)

























Discussion about this post